Ia dikenal sebagai seorang pengajar yang berbakat dan tidak diragukan lagi merupakan salah satu pemikir terbesar pada masanya.
Murid-muridnya yang paling terkenal adalah Synesius, Uskup Kyrenia, serta Orestes, Prefek Alexandria.
Hypatia menjalin korespondensi yang berkelanjutan dengan Synesius, dan sebagian surat-surat mereka masih bertahan hingga saat ini. Surat-surat tersebut mengungkapkan kekaguman mendalam yang dimiliki Synesius terhadapnya.
“Bahkan jika Hades adalah tempat di mana segala sesuatu dilupakan, di sana pun aku akan tetap mengingatmu, Hypatia yang terkasih,” tulisnya dalam salah satu suratnya.
Hypatia sering berpidato di pusat kota, menyampaikan pemikirannya tentang Plato. Audiensnya terpesona, bukan hanya oleh gagasan-gagasannya yang cemerlang, tetapi juga oleh penampilannya yang menawan.
Para cendekiawan dan kaum intelektual Alexandria sangat menghormatinya. Bahkan komunitas Kristen pun mengaguminya, menggunakannya sebagai contoh kesucian dan kebajikan.
Sebuah anekdot yang masih bertahan hingga kini menceritakan tentang bagaimana seorang pemuda pernah mengungkapkan cintanya kepada Hypatia. Sebagai tanggapan, ia menunjukkan saputangan yang berlumuran darah haidnya, sebagai simbol ketidakmurnian hubungan jasmani.
Hypatia menjalani hidup selibat, dan para sejarawan percaya bahwa ia tetap perawan hingga akhir hayatnya.
Kesuciannya menjadikannya sosok yang dihormati dalam masyarakat Yunani, yang menganggap selibat sebagai sebuah kebajikan. Hal ini membuatnya diterima dan dihormati, baik oleh pria maupun wanita.
Hypatia Dibunuh oleh Fanatisme Kristen
Hypatia menganut paganisme pada masa ketika agama Kristen masih berkembang dan mendapatkan banyak pengikut, termasuk beberapa yang fanatik.
Baca Juga: Awal Mula Gymnasium, Tempat Orang Yunani Kuno Olahraga Tanpa Pakaian
Source | : | Greek Reporter |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR