Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa serigala yang lebih jinak mungkin telah tertarik pada sisa makanan manusia.
Serigala yang sukses sebagai pemulung cenderung lebih toleran terhadap kehadiran manusia dan mengurangi sifat agresifnya demi mendapatkan makanan dengan mudah.
Seiring waktu, populasi ini mungkin mulai mengisolasi diri dari kawanan serigala liar lainnya, berkembang biak dengan sesama serigala yang lebih jinak, hingga akhirnya berevolusi menjadi anjing pertama.
Teori ini, yang disebut proto-domestikasi, self-selection, atau hipotesis scavenger, mendapatkan perhatian Capaldi setelah ia menontonnya dalam serial Cosmos: A Spacetime Odyssey yang dipandu oleh Neil deGrasse Tyson.
Dalam salah satu episodenya, Tyson menggambarkan skenario bagaimana manusia purba mungkin tanpa sengaja "memelihara" serigala jinak hanya dengan melemparkan tulang ke arah mereka di sekitar api unggun.
Capaldi penasaran karena selama ini ia selalu mendengar bahwa manusialah yang membentuk anjing melalui seleksi ketat. “Saya ingin melihat sudut pandang lain dari cerita ini,” katanya.
Salah satu argumen utama yang menentang hipotesis scavenger adalah waktu. Jika serigala hanya bertahan dengan cara memulung dan berkembang biak di antara mereka sendiri, proses evolusi dari serigala menjadi anjing seharusnya memakan waktu lebih lama.
Di sinilah model matematika berperan. David Elzinga, seorang ahli ekologi matematika dari University of Wisconsin-La Crosse, percaya bahwa matematika dapat memberikan jawaban yang lebih jelas.
“Saya rasa model matematika belum banyak digunakan dalam diskusi ini,” katanya. Meskipun bukan rekonstruksi langsung dari kehidupan serigala atau manusia purba, model ini dapat menyederhanakan realitas dan memberikan wawasan berharga tentang kemungkinan kecepatan domestikasi anjing.
Matematika di Balik Evolusi Anjing dari Serigala Jinak
Untuk memahami seberapa cepat serigala pemulung bisa berevolusi menjadi anjing, tim peneliti yang dipimpin oleh Capaldi dan Elzinga menerapkan model matematika berbasis agen.
Source | : | National Geographic |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR