Taktik Piramida Inggris
Alasan munculnya skema permainan ini adalah beberapa kekalahan timnas Inggris dalam pertandingan dengan Skotlandia pada tahun 1870-1875. Timnas Skotlandia menggunakan skema yang tidak dikenal oleh lawan, yakni formasi 2-2-6, berhasil mengalahkan Inggris.
Setelah kekalahan lainnya, pelatih Inggris mulai mengembangkan skema yang lebih relevan dan mengembangkan formasi 2-3-5. Secara visual, itu menyerupai piramida.
Itulah sebabnya taktik ini disebut piramida Inggris. Itu sangat efektif dan digunakan hingga tahun 40-an abad ke-20.
Perubahan utama dalam taktik piramida Inggris adalah bahwa 3 gelandang tidak hanya harus membantu dalam serangan, tetapi juga harus mundur ke pertahanan tepat waktu.
Ini memastikan bahwa jumlah pemain bertahan yang bertemu lawan sama dengan jumlah pemain depan. Pemenang Piala Dunia pertama pada tahun 1930, yakni timnas Uruguay, menggunakan skema ini.
Variasi yang tidak biasa dari piramida semacam itu adalah "metodo", yang diciptakan pada tahun 30-an oleh pemain Italia Vittorio Pozzo. Ia memutuskan untuk menggeser 2 pemain depan lebih dekat ke tengah lapangan dan skemanya menjadi 2-3-2-3. Berkat ini, timnas Italia memenangkan 2 Piala Dunia pada tahun 1934 dan 1938.
Menariknya, versi "metodo" yang berbeda digunakan oleh pelatih modern. Misalnya, Pep Guardiola sangat menyukainya dan menggunakannya di Manchester City dan Barcelona.
Sistem Brasil dan Catenaccio
Taktik ini digunakan oleh tim nasional Brasil di Piala Dunia 1950. Melawan tim yang bermain “metodo”, mereka mulai menggunakan skema menyerang 4-2-4. Namun, jika terjadi serangan, 2 bek sayap digeser tajam ke depan dan berubah menjadi 2-4-4.
Selain itu, 2 penyerang tengah tim adalah penyerang tipe ram. Mereka menyapu bersih para bek, memberi ruang bagi manuver pemain kreatif seperti Pele.
Namun, skema ini memiliki beberapa kelemahan. Pertama adalah kesulitan menggerakkan bek sayap. Kedua, para penyerang tidak punya waktu untuk berganti ke pertahanan saat kehilangan bola. Dan ketiga, bagian tengah lapangan sering melorot.
Penulis | : | Utomo Priyambodo |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR